Mengganti Kata “Jangan”
“Dahulu, aku adalah seorang anak kecil yang berada dalam asuhan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tanganku bergerak ke
sana-sini mengambil makanan. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, ‘Wahai Anak Kecil, sebutlah nama
Allah (bacalah basmalah), makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah
makanan yang berada di dekatmu.’ Kemudian,
aku tidak pernah lagi makan seperti saat itu.” (HR. Bukhari, juz 5,
hlm. 2056, Shahih Al-Bukhari; dinilai sahih oleh Al-Albani)
mengganti-kata-jangan
Cukup sekali googling dengan kata kunci “kata jangan pada anak”, kita
bisa mendapat begitu banyak tulisan yang menasihatkan para orang tua
untuk menghindari penggunaan kata “jangan” kepada anak. Alasan yang
diuraikan pun beragam: dengan kata “jangan”, anak menjadi tidak paham
tentang perbuatan yang seharusnya dia lakukan; anak malah akan balik
bertanya “kenapa tidak boleh”; dan berbagai alasan lainnya.
Meski sudah memiliki segudang referensi semisal itu, apakah kita pernah
sadar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebenarnya sudah
jauh hari mengajarkan kita tentang konsep ini?
Jika kita
perhatikan penuturan ‘Umar bin Abi Salamah di awal tulisan ini, kita
bisa melihat cara bijak sang Mushthafa dalam mendidik anak kecil. Ketika
tangan ‘Umar bin Abi Salamah berkelana ke sana-sini di atas meja makan,
Rasulullah tidak mengatakan, “Jangan lakukan itu!”, namun beliau justru
mengatakan, “Wahai Anak Kecil, sebutlah nama Allah, makanlah dengan
tangan kananmu, dan makanlah makanan yang berada di dekatmu.”
Dari teladan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, banyak sekali pelajaran yang bisa kita praktikkan:
1. Anak kecil terlahir ke dunia dalam keadaan nihil pengalaman.
Pengajaran dari orang-orang di sekitarnya akan memengaruhi perkembangan
jiwanya.
2. Memberikan informasi kepada anak merupakan bentuk pengajaran yang jauh lebih baik dibandingkan menyampaikan larangan.
3. Ketika perintah yang diucapkan kepadanya berupa kalimat negasi,
misalnya: “Tanganmu jangan ke mana-mana mengambil makanan,” bisa jadi,
si anak malah tidak paham maksudnya sehingga tangannya tetap bergerak ke
mana-mana mengambil makanan, atau justru mereka tidak jadi makan dan
malah bingung harus bersikap seperti apa.
4. Ketika anak
melakukan kesalahan, itu justru waktu yang tepat untuk memberikannya
pengajaran baru, di sampiing meluruskan kesalahan yang telah dibuatnya.
Lihatlah, kesalahan ‘Umar bin Abi Salamah hanya satu: tangannya
bergerayang ke sana-sini di atas meja makan untuk mengambil makanan,
namun Rasulullah meluruskannya dengan satu pengajaran: “Dan makanlah
makanan yang berada di dekatmu …” plus dua ilmu baru: “Sebutlah nama
Allah (bacalah basmalah), makanlah dengan tangan kananmu…”
5.
Menyapa anak sebelum memberi teguran merupakan salah satu sikap lembut
dalam memberi nasihat kepadanya. Sebagaimana ucapan Rasulullah, “Wahai
anak kecil…”
6. Sikap santun dalam menegur anak bisa memberi kesan mendalam pada dirinya:
- Si anak akan lebih mudah menerima nasihat. Sebagaimana perkataan
‘Umar bin Abi Salamah, “… Kemudian, aku tidak pernah lagi makan seperti
saat itu.”
- Dia akan belajar tentang adab dalam memberi nasihat.
- Suatu saat, adab itu bisa dia terapkan ketika menasihati orang lain.
https://www.facebook.com/pages/Kisah-Kisah-Teladan-Islami-Penuh-Hikmah/
Senin, 06 Januari 2014
Rabu, 25 Desember 2013
PENDIDIKAN GURU MASA DEPAN: “DARI RINTISAN MENUJU PEMBAKUAN”
PENDIDIKAN GURU MASA DEPAN:
“DARI RINTISAN MENUJU PEMBAKUAN”
Jakarta,
12 Desember 2013 – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui
Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi menggelar kegiatan Seminar dan FGD
Penyelenggaraan Pendidikan Guru : ”Dari Rintisan Menuju Pembakuan”, yang
dirancang sebagai media sharing pengalaman dan pemikiran antara LPTK
penyelenggara, Stakeholders, pakar pendidikan, dan peserta SM-3T.
Acara Seminar dan FGD diselenggarakan
Kamis (12/12) di Jakarta. Seminar dan FGD dihadiri oleh Pimpinan
Kemendikbud, Pakar Pendidikan, LPTK penyelengara (SM-3T, PPGT, PPG
SM-3T, PPGT Kolaboratif), dan DPR RI. Adapun nara sumber acara seminar
dan FGD ini adalah LPTK penyelengara (SM-3T, PPGT, PPG SM-3T, PPGT
Kolaboratif) dan Tim MBMI.
Lembaga Pendidikan dan Tenaga
Kependidikan (LPTK) mengembangkan kurikulum pendidikan guru yang
terintegrasi antara pendidikan akademik dan pendidikan profesi. Kualitas
guru memiliki pengaruh berantai terhadap komponen pendidik lainnya,
sehingga untuk memenuhi syarat , maka harus melalui matrikulasi,
terutama untuk memenuhi defisit kompetensi akademik kependidikan.
“Membina guru ibarat menjaga di hulu. Seberapa pun cukup sawahnya tetapi guru tidak di filter
maka hulu pun tetap akan banjir,” ujar Supriadi Rustad selaku Direktur
Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ditjen Dikti Kemdikbud. Untuk itu
diadakannya Seminar dan FGD ini bertujuan untuk menindaklanjuti program
pemerataan, pemenuhan dan peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.
Dalam perhelatan ini sebagai Ketua
Asosiasi LPTK, Prof.Sunaryo Kartadinata menyampaikan penegasan kembali
tentang pentingnya relevansi dan pentingnya pendidikan berasrama dalam
proses pendidikan bagi calon guru, kompetensi pendidikan profesi, dan
standarisasi tentang pendidikan guru “Secara yuridis kita perlu payung
hukum yang terkait dengan nomenklatur secara konsisten tentang LPTK”
terang Sunaryo. (ADA)
http://www.dikti.go.id
Minggu, 15 Desember 2013
12 Pilar Pendidikan Karakter Utuh dan Menyeluruh
12 Pilar Pendidikan Karakter Utuh dan Menyeluruh
Pendidikan
karakter utuh dan menyeluruh menawarkan beberapa alternatif
pengembangan keutamaan untuk membentuk karakter individu menjadi
pribadi berkeutamaan. Pilihan prioritas keutamaan itu didasarkan pada
tiga matra pendidikan karakter yang menjadi dasar bagi pengembangan
pendidikan karakter utuh dan menyeluruh, yaitu matra individual, matra
sosial, dan matra moral. 12 Pilar Keutamaan menurut Doni Koesoema A adalah sebagai berikut:
1. Penghargaan terhadap tubuh
Penghargaan terhadap tubuh merupakan keutamaan fundamental
yang perlu dikembangkan dalam diri setiap orang. Penghargaan
terhadap tubuh termasuk di dalamnya kesediaan dan kemampuan individu
menjaga dan merawat kesehatan jasmani tiap individu. Kesehatan
jasmani merupakan salah satu bagian penting bagi pembentukan
keutamaan. Pendidikan karakter mesti memprioritaskan tentang
bagaimana individu dapat menjaga tubuhnya satu sama lain, tidak
merusaknya, melainkan membuat keberadaan tubuh tumbuh sehat sesuai
dengan perkembangan dan pertumbuhan kodratnya. Penghargaan terhadap
tubuh merupakan ekspresi diri individu untuk menjadi perawat dan
pelindung satu sama lain. Individu mesti menumbuhkan dalam dirinya
sendiri keinginan untuk merawat tubuh diri dan orang lain, termasuk
pertumbuhan psikologis dan emosionalnya.
2. Transendental
Pengembangan keutamaan transendental, baik itu yang sifatnya religius, keagamaan, maupun yang sublim, seperti kepekaan seni,
apresiasi karya-karya manusia yang membangkitkan refleksi serta
kemampuan untuk memahami kebesaran yang Illahi merupakan dasar bagi
pengembangan pembentukan karakter. Setiap individu dianugerahi kepekaan
akan sesuatu yang lembut, halus, yang bekerja secara rohani
mendampingi manusia, kepekaan akan sesuatu yang adikodrati. Kepekaan
akan yang Kudus, yang transenden, yang baik, yang indah, baik itu dalam
diri manusia maupun di alam, merupakan salah satu sarana untuk
membentuk individu menjadi pribadi berkeutamaan.
3. Keunggulan akademik
Keunggulan akademik
adalah tujuan dasar sebuah lembaga pendidikan. Keunggulan akademik
berbeda dengan sekedar lulus ujian. Keunggulan akademik mencakup di
dalamnya, cinta akan ilmu, kemampuan berpikir kritis, teguh pada
pendirian, serta mau mengubah pendirian itu setelah memiliki
pertimbangan dan argumentasi yang matang, memiliki keterbukaan akan
pemikiran orang lain, berani terus menerus melakukan evaluasi dan kritik
diri, terampil mengomunikasikan gagasan, pemikiran, melalui bahasa
yang berlaku dalam ruang lingkup dunia akademik, mengembangkan rasa
kepenasaranan intelektual yang menjadi kunci serta pintu pembuka bagi
hadirnya ilmu pengetahuan. Dari kecintaan akan ilmu inilah akan
tumbuh inovasi, kreasi dan pembaharuan dalam bidang keilmuan.
4. Penguasaan diri
Penguasaan diri
merupakan kemampuan individu untuk menguasai emosi dan perasaannya,
serta mau menundukkan seluruh dorongan emosi itu pada tujuan yang
benar selaras dengan panduan akal budi. Penguasaan diri termasuk di
dalamnya kesediaan mengolah emosi dan perasaan, mau menempatkan
kecondongan rasa perasaan sesuai dengan konteks dan tujuan yang tepat
sebagaimana akal budi membimbingnya. Penguasaan diri termasuk di
dalamnya kemampuan individu dalam menempatkan diri, bertindak dan
berkata-kata secara bijak dalam ruang dan waktu yang tertentu.
5. Keberanian
Keberanian
merupakan keutamaan yang memungkinkan individu mampu melakukan
sesuatu dan merelisasikan apa yang dicita-citakannya. Keberanian
termasuk di dalamnya kesediaan untuk berkorban demi nilai-nilai yang
menjadi prinsip hidupnya, tahan banting, gigih, kerja keras, karena
individu tersebut memiliki cita-cita luhur yang ingin dicapai dalam
hidupnya. Keberanian merupakan dorongan yang memungkinkan individu
mewujudnyatakan dan merealisasikan impiannya.
6. Cinta kebenaran
Cinta akan kebenaran
merupakan dasar pembentukan karakter yang baik, bukan sekedar sebagai
seorang pembelajar, melainkan juga sebagai manusia. Manusia
merindukan kebenaran dan dengan akal budinya manusia berusaha
mencari, menemukan dan melaksanakan apa yang diyakini sebagai
kebenaran. Prinsip berpegang teguh pada kebenaran mesti diterapkan
bagi praksis individu maupun dalam kehidupan bersama. Cinta akan
kebenaran yang sejati memungkinkan seseorang itu berani mengorbankan
dirinya sendiri demi kebenaran yang diyakininya. Sebab, keteguhan
nilai-nilai akan kebenaran inilah yang menentukan identitas manusia
sebagai pribadi berkarakter.
7. Terampil
Memiliki berbagai
macam kompetensi dan keterampilan yang dibutuhkan, bagi perkembangan
individu maupun dalam kerangka pengembangan profesional menjadi
syarat utama pengembangan pendidikan karakter yang utuh. Memiliki
kemampuan dasar berkomunikasi, baik secara lisan maupun tulisan,
kompeten dalam bidang yang digeluti merupakan dasar bagi keberhasilan
hidup di dalam masyarakat. Melalui kompetensinya ini seorang
individu mampu mengubah dunia.
8. Demokratis
Masyarakat global
hidup dalam kebersamaan dengan orang lain. Ada kebutuhan untuk saling
membutuhkan, bahu membahu satu sama lain. Masyarakat tidak dapat
hidup secara tertutup sebab keterhubungan satu sama lain itu
merupakan kondisi faktual manusia. Karena itu, setiap individu mesti
belajar bagaimana hidup bersama, mengatur tatanan kehidupan secara
bersama, sehingga inspirasi dan aspirasi individu dapat tercapai.
Demokrasi mengandaikan bahwa individu memiliki otonomi dalam
kebersamaan untuk mengatur kehidupannya sehingga individu dapat
bertumbuh sehat dalam kebersamaan. Demokrasi termasuk di dalamnya
pengembangan dan penumbuhan semangat kebangsaan.
9. Menghargai perbedaan
Perbedaan adalah
kodrat manusia. Menghargai perbedaan merupakan sikap fundamental yang
mesti ditumbuhkan dalam diri individu. Terlebih dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara di Indonesia, menghargai perbedaan mesti
ditumbuhkan dalam diri tiap individu, karena negara kita ini berdiri
karena para pendiri bangsa ini menghargai perbedaan, dan dalam
perbedaan itu mereka ingin mempersatukan kekuatan dan tenaga dalam
membangun bangsa.
10. Tanggung jawab
Tanggungjawab
merupakan unsur penting bagi pengembangan pendidikan karakter karena
terkait dengan ekspresi kebebasan manusia terhadap dirinya sendiri
dan orang lain. Tanggung jawab ini memiliki tiga dimensi, yaitu
tanggungjawab kepada (relasi antara individu dengan orang lain),
tanggungjawab bagi (hubungan individu dengan dirinya sendiri), serta
tanggungjawab terhadap (hubungan individu terkait dengan tugas dan
tanggungjawabnya di dalam masyarakat).
11. Keadilan
Bersikap adil, serta mau
memperjuangkan keadilan adalah sikap dasar pribadi yang memiliki
karakter. Keadilan penting untuk diperjuangkan karena manusia
memiliki kecenderungan untuk antisosial. Untuk itulah diperlukan
komitmen bersama agar masing-masing individu dihargai. Dalam konteks
hidup bersama, keadilan menjadi jiwa bagi sebuah tatanan masyarakat
yang sehat, manusiawi dan bermartabat. Tanpa keadilan, banyak hak-hak
orang lain dilanggar.
12. Integritas moral
Integritas moral
merupakan sasaran utama pembentukan individu dalam pendidikan
karakter. Integritas moral inilah yang menjadikan masing-masing
individu dalam masyarakat yang plural mampu bekerjasama
memperjuangkan dan merealisasikan apa yang baik, yang luhur, adil dan
bermartabat bagi manusia, apapun perbedaan keyakinan yang mereka
miliki. Integritas moral memberikan penghargaan utama terhadap
kehidupan, harkat dan martabat manusia sebagai makhluk ciptaan yang
bernilai dan berharga apapun keadaan dan kondisinya. Kehadiran individu
yang memiliki integritas moral menjadi dasar bagi konstruksi sebuah
tatanan masyarakat beradab. Integritas moral muncul jika individu
mampu mengambil keputusan melalui proses pertimbangan rasional yang
benar, dan melaksanakannya dalam tindakan secara bijak, sesuai dengan
konteks ruang dan waktu tertentu. Integritas moral termasuk di
dalamnya kemampuan individu untuk membuat kebijakan praktis yang
bermakna bagi hidupnya sendiri dan orang lain.
http://www.pendidikankarakter.org
Jumat, 29 November 2013
Sistem Pendidikan Perlu Diubah
Sistem Pendidikan Perlu Diubah
Pendidikan harus mampu membuat anak menjadi pembelajar sepanjang hayat. Dalam kaitan dengan ujian
Pendidikan perlu menyeimbangkan
penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dengan tetap
memegang nilai-nilai tradisional yang relevan dan modern. Persoalan
tersebut mengemuka dalam dialog-dialog di acara World Innovation Summit
for Education (WISE) ke-4 di Doha, Qatar, yang berakhir pekan lalu.
Dalam menghadapi perubahan pendidikan
untuk mempersiapkan generasi muda dunia yang lebih baik, seruan saling
belajar, berbagi, dan bekerjasama di antarorganisasi dan negara mencuat.
Mona Mourshed, Partner and Leader, Global
Education Practice McKinsey and Company, mengatakan dunia pendidikan
terus menghadapi tantangan soal belum sinkronnya lulusan dengan pasar
tenaga kerja yang tersedia. Dunia pendidikan belum dikatakan berhasil
jika hanya membuat lulusannya bisa bekerja begitu lulus.
“Yang penting apakah lulusan itu bisa
membangun karirnya, bukan sekadar bekerja,” kata Mona. Dalam upaya
menyelaraskan dunia pendidikan dan dunia kerja, kata Mona, di banyak
tempat terkendala kurangnya kesempatan magang bagi siswa/mahasiswa.
Untuk itu, perlu dukungan pemerintah dan
perusahaan untuk memberikan kesempatan yang luas bagi siswa/mahasiswa
untuk belajar secara langsung di dunia kerja dengan sistem magang untuk
membuat mereka siap memasuki dunia kerja.
Sementara itu, Aicha Bah Diallo, Ketua
Forum Perempuan Pendidik Afrika, mengatakan perlu dikaji kembali apakah
sistem pendidikan saat ini membuat anak-anak benar-benar belajar serta
guru benar-benar termotivasi.
“Pendidikan harus mampu membuat anak
menjadi pembelajar sepanjang hayat. Dalam kaitan dengan ujian,” kata
Aicha, tes jangan justru jadi salah bentuk kekerasan pada siswa.
“Tes dalam pendidikan harus dikembangkan
dengan tujuan untuk membuat potensi siswa berkembang, bukan malah untuk
menghukum siswa tidak lulus,” kata Aicha. Conrad Wolfram, Ahli
Matematika, mengatakan pendidikan perlu didekatkan dengan realitas
keseharian. Dalam pembelajaran Matematika, misalnya, pendidikan tidak
semata untuk mmebuat siswa mampu menghitung.
“Dengan perkembangkan teknologi,
menghitung sudah bisa dilakukan dengan komputer. Tetapi dalam pendidikan
Matematika, justru dipakai bagaimana mmebuat siswa mampu memecahkan
masalah. Perlu perubahan dalam belajar Matematika saat ini,” kata
Conrad.
Peter Thiele, pejabat di Kementerian
Pendidikan dan Penelitian Jerman, mengatakan pendidikan menyeimbangkan
antara kebutuhan akademik dan keterampan untuk memasuki dunia kerja.
Pendidikan ke depan tidak hanya mengejar pendidikan tinggi akademik,
tetapi juga vokasi. “Pendidikan menyiapkan generasi yang mampu berpikir
kritis, analistis, dan kretaif. Pendidikan mesti difokuskan untuk
hal-hal yang berguna,” kata Peter. Secara terpisah, Fasli Jalal, mantan
Wakil Menteri Pendidikan Nasional yang hadir dalam WISE, di Jakarta,
Senin (19/11/2012), mengatakan Indonesia menghadapi tantangan dalam
sistem pendidikan yang masih belum menyiapkan siswa yang mampu berpikir
tinggi dan relevan dengan kehidupan. Hal ini utamanya karena mutu guru
dan pembelajarannya yang masih belum sesuai harapan.
Fasli mengatakan dari penelitian Bank
Dunia baru-baru ini soal guru Indonesia, pelaksanaan sertifikasi memang
belum mampu meningkatkan mutu guru dan perubahan dalam pembelajaran yang
lebih bermakna.
Masalah mendasar pendidikan Indonesia
justru terjadi di ruang-ruang kelas, di mana guru sebagai yang utama
belum dapat mendidik dengan baik.
“Guru-guru Indonesia umumnya lebih
mengedepankan keterampilan tingkat belajar tingkat rendah, seperti
menghafal. Makna pembelajaran untuk kehidupan sehari-hari belum bisa
dikaitkan. Termasuk juga guru masih belum bisa membuka diir terhadap
beragam alternatif jawaban,” kata Fasli.
Menurut Fasli, perlu pembenahan serius
soal guru dalam sistem pendidikan di Indonesia. Dengan guru bermutu,
loncatan perubahan pendidikan Indonesia bisa cepat, terutama untuk
mengembangkan pendidikan yang menyiapkan anak-anak siap memasuki
kehidupan masa depan dengan perubahan teknologi yang tinggi.
http://www.beritakaget.com/berita/3581/sistem-pendidikan-perlu-diubah.html
Pendidikan Jujur yang Membebaskan
Pendidikan Jujur yang Membebaskan
Itulah yang terjadi di Universitas
Harvard, AS, yang prestisius itu. Baru-baru ini Harvard terguncang hebat
oleh skandal ”nyontek” yang melibatkan sekitar 125 mahasiswa dalam mata
kuliah pemerintahan.
Sesungguhnya penulis rindu guncangan
semacam itu juga terjadi dalam pendidikan kita. Guncangan karena skandal
”nyontek” justru menunjukkan penyelenggara pendidikan teguh
memperjuangkan martabatnya. Kejujuran harga mati, martabat, sekaligus
roh pendidikan. Sebaliknya, menutup-nutupi fakta ketidakjujuran dan
beragam dinamika pendidikan manipulatif tindakan pembusukan dunia
pendidikan dan penghancuran bangsa.
Alasan mencontek
Alasan mencontek
Ada banyak alasan mengapa siswa/mahasiswa
mencontek. Pada kasus Harvard, pencontek- an dilakukan puluhan atlet
universitas itu. Diduga, seperti banyak perguruan tinggi lain, Harvard
memberikan keringanan bagi para atlet mahasiswa. Dalam konteks ini,
mencontek terjadi karena pencontek tak ada di tempat belajar yang tepat.
Pembelajar harus mempertimbangkan kultur dan dinamika tempat belajarnya
agar terhindar dari tekanan terlampau tinggi karena tuntutan institusi
pendidikan di luar kemampuannya. Sekolah/universitas yang ”bagus dan
baik” belum tentu berguna bagi semua pembelajar.
Tekanan yang terlampau berat juga terjadi
karena tuntutan prestasi/nilai. Tuntutan itu bisa datang dari orangtua
atau lembaga. Sesungguhnya tak selalu salah menuntut pembelajar mendapat
prestasi tinggi asal lembaga pendidikan sungguh-sungguh menekankan dan
menghargai proses. Nalarnya: kalau semua proses pendidikan berjalan
dengan baik, akuntabel, dan transparan, nilai/prestasi yang baik akan
terjadi dengan sendirinya.
Sayangnya, pendidikan kita telah
mengabaikan proses. Akibatnya sebagian besar pembelajar di negeri ini
tak memiliki kepercayaan diri. Ketika penulis bertanya kepada para murid
tentang alasan mereka sulit mengendalikan dorongan spontan untuk tidak
mencontek adalah nihilnya kepercayaan diri. Sejak SD mereka tak pernah
mengalami nikmatnya belajar, indahnya belajar dengan menekuni proses.
Lebih parah lagi, guru mereka tak banyak menghargai, apalagi mengajarkan
proses belajar.
Kita bisa memahami pengakuan para murid
itu ketika menyadari rendahnya kompetensi guru. Kian jarangnya digunakan
soal-soal uraian dalam ujian adalah petunjuk lain. Pragmatisme
pembelajaran yang berjiwa hedonis dengan menjadikan nilai ujian sebagai
penentu prestasi pantas kita pertimbangkan juga. Padahal, banyak
pembelajar sesungguhnya unggul dalam mengerjakan tugas harian (proses),
tetapi ringkih saat ujian karena kurang percaya diri. Di sini kita
mestinya sadar, para pencontek itu adalah korban dinamika pembelajaran
yang pragmatis-hedonis, mengabaikan proses, tidak transparan dan
akuntabel.
Kita juga mesti merenung jujur: tidakkah
dinamika pendidikan yang begitu memuja pencitraan dan beragam tindakan
manipulatif hanya akan melahirkan generasi pencontek? Apalagi bila
dinamika semacam itu justru difasilitasi dan dimobilisasi lembaga
pemerintahan-negara. Itu sebuah pelanggaran hak asasi manusia yang
serius, sistematis, dan kejam, tetapi terjadi dalam sunyi. Lebih parah
lagi, ini efektif menghancurkan eksistensi bangsa kita karena pada
saatnya negeri ini akan diurus generasi nihil kepercayaan diri.
Pembelajar jujur
Pembelajar jujur
Pendidikan jujur niscaya demi menjaga
eksistensi bangsa ini dalam percaturan dunia. Pendidikan jujur
meniscayakan dinamika pembelajaran yang menekankan dan menghargai
proses, transparan, serta akuntabel. Dinamika pendidikan semacam itu
membantu pembelajar mengalami apa yang oleh Paulo Freire disebut
humanisasi.
Dalam humanisasi, manusia dibantu
menyadari keterbatasannya dengan praksis. Pendidikan yang menekankan dan
menghargai proses membantu pembelajar menyadari keterbatasannya hingga
sanggup mengatasi situasi yang membatasinya itu.
Karena itu, pembelajar perlu dibantu
memilih institusi belajar yang memiliki kultur dan dinamika pembelajaran
yang cocok baginya. Tujuannya agar pembelajar mampu berproses. Ia mampu
nyaman dengan dirinya, menentukan target prestasi yang terukur, serta
melakukan dinamika proses pembelajaran yang unik untuk mencapai target
itu. Pada akhirnya ia terbantu untuk memiliki banyak pengalaman sukses
dan melampaui keterbatasan-keterbatasan yang disadarinya. Inilah jalan
melahirkan generasi berkarakter dan jujur.
Beragam pencitraan dan kastanisasi
pendidikan yang memengaruhi perekrutan pembelajar perlu dipertimbangkan.
Institusi pendidikan sebaiknya merekrut mereka yang mampu belajar
sesuai kultur institusinya. Sekolah/ universitas dibangun untuk
pembelajaran, bukan gerombolan.
http://www.beritakaget.com/berita/3382/pendidikan-jujur-yang-membebaskan.html
Langganan:
Postingan (Atom)